PENYESALAN ANAK TELAH KASAR PADA IBUNYA

Penulis : Erdin, S.Pd.

(Kisah ini diangkat dari kisah rakyat masa kecil atau yang disebut oleh masyarakat Bima dengan "Mpama")


Pada jaman dahulu, jaman belum secanggih sekarang ini. Masyarakat jaman dahulu mengandalkan keahlian tradisional dalam mencari nafkah misalnya seperti berladang dan berkebun. Alat – alat yang digunakan tidak secanggih sekarang ini. Dimana alat yang digunakan hanyalah parang, tombak, dan peralatan sederhana lainya.

Lalu pada masa itu, Hiduplah satu keluaraga yang berladang. Dimana, keluarga itu tidak lengkap. Hanya ada ibu dan satu orang anaknya. Mereka tinggal diladangnya tersebut. Ibunya sangat rajin berladang. Tiap pagi setelah selesai menyiapkan makanan anak sematang wayangnya, ia pergi mebersihkan gulma  yang hidup menumpang di padi dan jagung tanamanya. Sedangkan anaknya sangat kasar dan galak, sedikit – sedikit ia marah dan uring – uringan. Dia banyak maunya. Mau memiliki baju yang bagus, makanan yang lezat – lezat. Sementara mereka hidup serba kekurangan, serta anaknya juga adalah seorang pemalas.

Ibunya tetap sabar menghadapi anaknya. Setiap kali anaknya meminta makanan yang lezat ibunya mengusahakannya. Sampai ibunya harus menjual sedikit – demi sedikit perhiasan warisan dari suaminya sehingga habis. Anaknya merasa sangat bahagia dengan terpenuhinya yang ia butuhkan, tanpa mempedulikan yang ada. Ia tidak menyadari bahwa ia nanti akan mengalami kekurangan. Ibunya mulai risau, mengingat harta mereka untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari berkurang. Namun, anaknya tidak mau tahu.

Ibu              : Nak...! persiapan kebutuhan kita sudah menipis. Kamu jangan banyak uring – uringan lagi ya nak ! makan apa adanya, yang penting kita bisa hidup. Jelas ibunya lirih.

Anak            : apa ? saya tidak mau tahu bu. Ibu harus menyiapkan makanan yang lezat buat saya. Saya tidak mau makan kalau tidak enak. Jawabnya ketus nan lantang.

 Ibunya mengeluskan dada, kaget dan sedih mendengar jawaban anak satu – satunya yang ia sayangi itu.

Ibu              : nak ... ! andai ayahmu masih hidup. Mungkin tdak seperti ini kondisi ekonomi kita. Jadi ibu harap kamu bisa memakluminya. Ladang kita belum di panen. Nanti kalau sudah panen ladangnya, ibu bisa jual sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Anak            : pokoknya tidak! Saya tidak mau tahu. Saya harus disiapkan makanan yang lezat – lezat. Terserah ibu carinya bagaimana. Jawanya ketus lagi.

Ibunya hanya terdiam, dan pergi untuk melanjutkat istirahatnya malam itu.

Hari demi hari perlakuan anaknya tidak ada perubahan. Sikapnya malah tambah galak dan kasar jika kebutuhannya tidak terpenuhi. Dimana kalau dia marah semua barang – barang digubuk ladangnya itu di tendang – tendang dan di buang. Terlihat ia sangat beringas dan buas. Ibunya yang menyaksikan kelakuan anaknya hanya bisa meneteskan air mata dan berdo’a, semoga anaknya sadar dan kembali pada sikap dan prilaku yang baik. Ibunya juga sangat malu. Karena suara anaknya yang keras nan ketus saat dia marah, sehingga didengar oleh tetangga – tetangganya. Para tetangga sering membicarakannya, menjadikan ia sebagai buah bibir orang – orang. ibunya yang melihat dan mendengar omongan tetangga menjadi sangat malu hingga ia pergi mengurung diri dalam kamar.

 Setelah beberapa hari berlalu, anaknya merebus ubi jalar kesukaannya. Setelah matang rebusannya, ia menyajikan diatas meja makan. Kemudian, ia pergi bermain bersama teman – temannya. Ibunya yang saat itu pulang dari membersihkan gulma di ladangnya melihat ada tudungan saji diatas meja, lalu ia membukanya. Ia melihat ada ubi rebus yang sudah matang. Ibunya sangat bangga dan bahagia, karena ternyata anaknya sudah mulai berubah. Anaknya sudah mau menyiapkan makanan buat dirinya yang bekerja di ladang. Ibunya pun mencicipi ubi masakan anaknya itu. Karena lapar, ibunya menghabiskan dua ubi rebusan anaknya, sehingga tersisa dua. Setelah merasa kenyang ibunya beristirahat.

Tak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh. “Plakkkkkk” !. ibunya langsung terbangun dari istirahatnya dan berjalan menuju sumber suara. Dilihatnya anaknya yang sedang cemberut.

Ibu     : Nak... ! suara apa tadi ? tanya ibunya lembut

Anak   : bu...! siapa yang makan ubi rebusan saya ? tanyanya ketus

Ibu     : kenapa, nak ?

Anak   : itukan ubi buat saya dan teman – teman saya.

Ibu     : oh ... iya ! maafin ibu nak. Tadi ibu sepulang dari kerja, ibu kira kau menyiiapkan buat ibu. Makanya ibu menghabiskan dua. Gak apa – apa kan? Tanya ibunya

Mendengar pengakuan ibunya, si anak langsung banting ubi dengan piring – piringnya.

Anak   : mengapa ibu makan ? saya sudah capek – capek memasak buat makan bersama teman –teman saya. Ungkapnya dengan nada ketus

Ibunya kaget bercampur sedih, serta merasa bersalah. Karena, ia pikir anaknya sudah berubah. Ternyata ia salah paham.

Ibu     : Nak... ! maafin ibu. Ibu salah sangka, nak...!. ibu kira kau menyiapkan buat ibu.

Anak   : aku tidak mau tahu. Ibu harus menggantikannya dengan segera, saya mau berangkat lagi. Pintanya sambil membanting – banting pintu rumahnya.

Ibunya sangat sedih melihat kelakuan anaknya. Anaknya lebih mementingkan orang lain ketimbang saya. Gumamnya dalam hati. Karena sudah tidak tahan, ibunya berniat untuk pergi meninggalkan anak satu – satunya itu.

 

Ibunya lama merenung. Ia memikirkan prilaku anaknya yang tidak berubah. Ia sudah tak tahan lagi dengan prilaku anaknya. Akhirnya Ia memutuskan akan pergi meninggalkan anaknya untuk selamanya. Seminggu kemudian, ibu itu akhirnya berangkat juga untuk pergi meninggalkan anaknya. Ia pergi sejauh mungkin menyeberang lautan, sehingga anaknya tidak lagi mampu menemukannya.

Anaknya yang hidup sendirian kini mulai merasakan kesusahan. Dahulu sewaktu ada ibunya ia langsung mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang, untuk makan saja ia susah. Ia pun dibenci oleh tetanggga – tetangganya. Karena prilakunya terhadap ibunya. Kini ibunya pergi entah kemana. Setelah beberapa hari ia hidup sendiri, kini ia memanggil – manggil ibunya. Namun, apa daya ibunya telah pergi meninggalkannya. Kini ia menyadari, betapa pentingnya punya ibu. Ia berjanji akan berubah dan mencari ibunya untuk kembali kerumah. Namun, ibunya tidak pernah ia temukan. Hanyalah penyesalan yang ada dalam dirinya. “Aindai aku dulu tidak jahat pada ibu ku mungkin ibuku tidak akan pergi meninggalkan aku”. Gumam anank itu menyesal.

Sekian ...!

Pesan moral, kita tidak boleh kasar pada orang tua siapapun itu. Entah ayah atau ibu. Dan penyesalan itu datang setelah kita melakukan suatu kesalahan. Oleh sebab itu, sebelum bertindak kita harus memikirkan terlebih dahulu. Admin06